Rabu, 05 Desember 2012

Berikut candi-candinya :


Candi Gunung Wukir th 732 M di Magelang, kondisi sudah rusak, terdapat beberapa Yoni sebagai landasan Lingga.





Candi Badut, Kanjuruhan Malang, dr Raja Gajayana 760 M untuk memuja Dewa Agastya.


Arca Dewa Agastya di Bali disebut Bhatara Guru






Kompleks Candi-candi di Pegunungan Dieng

Candi Prambanan Jaman pemerintahan Raffles






Candi Utama Prambanan (Candi Siwa) dibangun Oleh Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya th 856 M





Candi-candi lainnya :
  • Candi Tri Shakti Dari kompleks candi Lorojonggrang
  • Cadi Gedong Songo th 927 M. lereng Gn Ungaran dari Wangsa Syailendra
  • Candi Penataran 1194, di lereng Gn Kelud Blitar, jaman Kediri, Oleh Raja Sringga. Candi Siwaistis.
  • Candi Kidal 1248 M, Malang tempat Anusapati dimuliakan. Menuju Siwa-Buddha-Loka, Ia dibunuh oleh Tohjaya.
Disamping ini adalah bagian atas pintu masuk candi kurung.
  • Candi Jago 1268 M, di Malang. Tempat Rangga Wuni dimuliakan dg abhiseka Sri Jaya Wisnuwardhana.
  • Candi Singhasari 1292 M, di Malang, tempat Raja Krtanagara dimuliakan tokoh Bhairawa. Ia berpulang ke Alam Siwa-Buddha. Pada th 1284 Krtanagara menaklukkan Bali.
  • Candi Bajang Ratu 1328, oleh Jayanegara, di Trowulan. Diperkirakan sbg pintu masuk / gapura Majapahit.
  • Candi Ceto dibangun pada Akhir jaman Majapahit abad ke-15
Read More

Istilah Hindu dan sejarah Hindu di India

Istilah ‘Hindu’ diberikan oleh orang-orang asing yang datang ke India, seperti: Arab, Persia, Yunani. Yang dimaksud Hindu oleh mereka, adalah orang-orang yang mendiami daerah lembah sungai Sindhu, termasuk agama dan kebudayaan yang dianut. Istilah ‘Hindu’ untuk pertama kali secara resmi dipakai oleh raja-raja yang memerintah di Kerajaan Wijayanagar pada ke-15 M.

Orang-orang Hindu menyebut agamanya Waidika Dharma atau Agama Weda, karena berumber pada Weda. Agama Weda didasarkan pada sastra-sastra yang sangat banyak jumlah dan jenisnya; keseluruhan sastra-sastra itu disebut Weda (Pengetahuan Suci).

Weda diajarkan selasa lisan selama berabad-abad, disimpan secara rahasia dalam tradisi perguruan, dikomentari dan diinterpretasikan ajarannya oleh para Rsi-Rsi yang mempunyai otoritas melakukan penafsiran-penafsiran.
Berikut ini Sejarah Agama Hindu di India :
  1. Peradaban Lembah Sungai Sindhu (2.500 – 1.500 SM)
  2. Zaman Weda (1.500 – 800 SM)
  3. Zaman Brahmana (800 SM – 200 M)
  4. Zaman Purana (200 – 700 M)
  5. Zaman Pembaharuan (700 – 1.200 M)
  6. Zaman Gerakan Bhakti (1.200 – 1.800 M)
  7. Gerakan Hindu Modern (1.800 – Sekarang)
Berikut diuraikan sejarahnya :
PERADABAN LEMBAH SUNGAI SINDU(2.500 – 1.500 SM)
  • Ditemukan peninggalan purbakala di daerah lembah Sungai Sindhu di distrik Sind di daerah Mahenjodaro dan di distrik Punjab Barat di daerah Montgomery pada tahun 1921.
  • Ciri-ciri yang menonjol adalah adanya pemujaan kepada Mother Goddess (Dewi Ibu). Mereka percaya bahwa Mother Goddes atau kekuatan perempuan (Shakti) merupakan sumber dari semua ciptaan.
  • Mereka juga memuja Male God, dalam wujud Siwa sebagai Mahayogi dan Siwa Pasupati atau dewa penguasa binatang buas. Hal ini sesuai dengan atribut yang dikenakan seperti Trinetra (bermata tiga) dan Trisula.
  • Mereka juga memuja Siwa-Lingga. Wujud Lingga ini sampai sekarang dipuja.
  • Mereka percaya bahwa batu dan pohon didiami oleh roh halus baik yang jahat maupun baik (animisme)
  • Binatang seperti: lembu, harimau, Garuda juga dipuja.

ZAMAN WEDA (1.500 – 1.000 SM)
  • Peradaban Lembah Sungai Sindhu kemudian dilanjutkan oleh suku Bangsa Arya, yang memasuki India dari Barat-Laut, menetap di Lembah Sungai Sindhu dan Saraswati.
  • Sastra-Sastra yang tertua dari bangsa Arya, yaitu kitab suci Weda, tidak diketahui tarikh tahunnya.
  • Kata weda berasal dari urat kata wid, yang artinya ‘pengetahuan’ atau ‘mengetahui’.
  • Weda terdiri dari kitab Sruti dan Smrti.
  • Weda Sruti: Catur Weda, yaitu Rig Weda, Sama Weda, Yajur Weda,dan Atharwa Weda.
  • Weda Smrti, seperti: Ayur Weda, Dharma Weda, Dhanur Weda, dll
  • Zaman Weda umumnya dibagi menjadi 2 (dua) periode), yaitu:
    1. Zaman Weda Kuno
    2. Zaman Weda Baru
    3. Zaman Akhir Weda
ZAMAN WEDA KUNO (RIG WEDA)
  • Pada zaman ini orang-orang Arya memuja kekuatan dan manifestasi dari alam, misalnya: pemujaan Surya (langit), Indra (halilintar), Parjanya (awan), Wayu (angin), Marut (angin ribut), Agni (api) dll.
  • Konsep Ketuhanan mereka adalah henotheisme atau kathenotheisme. Meraka kemudian memanusiakan dan mewujudkannya sebagai Dewa. Jumlah dewa yang dipuja pada zaman ini sebanyak 33 dewa.
  • Waruna merupakan dewa yang paling mulia, pemimpin para dewa, maha tahu, penguasa alam semesta.
  • Indra adalah dewa yang paling banyak dipuja, hampir 25% nyanyian pujian pada Rig Weda dtujukan kepada Indra.
  • Agama Rig Weda tidak mengajarkan umat menyembah, membuat patung, membuat kuil tempat pemujaan. Mereka sembahyang di tempat terbuka.

ZAMAN WEDA BARU
  • Pada zaman ini dijumpai kitab: Sama Weda, Yajur Weda, dan Atharwa Weda, termasuk Wedanta, yang semuanya wahyu dari Tuhan, yang dikodifikasi oleh Bhagawan Abhyasa.
  • Pada zaman Sama Weda: mantra-mantra sloka dari Rig Weda mulai dinyanyikan pada upacara yajna. Nyanyian suci dikodifikasikan dalam bentuk kitab Sama Weda.
  • Pada zaman Yajur Weda, disusun cara-cara melakukan upacara yajna (kurban suci). Kedudukan Yajna pada zaman ini sangat penting. Yajna dipandang sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai moksa.
  • Selama upacara yajna berlangsung ketiga kitab suci (Trayi Weda), yakni: Riga, Sama, dan Yajur Weda harus dibawa dan dinyanyikan mantranya oleh Brahmana. Demikian juga pelaksanaan upcara harus sesuai dengan Yajur Weda.
  • Pada zaman Atharwa Weda, bangsa Arya menemukan mantra-mantra gaib untuk melawan ilmu sihir, penyakit, serta tata cara pemakaman jenazah.
ZAMAN BRAHMANA(800 – 300 SM)
  • Pada zaman ini pengkodifikasian kitab-kitab suci Weda sudah selesai. Para Rsi sudah tidak lagi mendapat wahyu lagu. Orang orang Arya sudah mulai menyebar ke arah Timur.
  • Pada zaman ini pula, Catur Weda mulai ditafsirkan oleh para Rsi. Tafsiran kitab-kitab Weda ini disebut kitab-kitab Brahmana.
  • Pembagian warna dalam arti kasta sudah mulai berkembang, tanah-tanah dikuasai oleh golongan bangsawan.
  • Upacara agama yang besar, megah, dan mahal berkembang, dilakukan oleh golongan aristokrat, akibatnya golongan Brahmana pun menjadi penting.
  • Zaman Brahmana, dibagi dalam 3 (tiga) zaman, yaitu:
    1. Zaman Kejayaan Hindu
    2. Zaman Kemunduran Hindu
    3. Zaman Kebangkitan Hindu.
ZAMAN KEJAYAAN HINDU(800 – 600 SM)
  • Spirit keagamaan mengalami perubahan, tidak ada lagi upacara2 kecil, melainkan upacara yajna besar dan rumit, sehingga golongan Brahmana memiliki kekuasaan dan mendapat perlakuan istimewa.
  • Upacara meliputi: mulai dari manusia dalam kandungan sampai meninggal, bahkan sampai yajna yang berhubungan dengan roh yang telah meninggal.
  • Upacara yang terbesar adalah Aswamedhayajna, korban kuda, memakai ratusan Brahmana, serta mengorbankan binatang dalam jumlah banyak.
  • Pada zaman Aranyaka muncul ajaran bertapa atau meditasi dalam usaha menguak misteri semesta.
  • Pada zaman Upanisad muncul ajaran yang berdasarkan filsafat dan logika. Ajaran dituangkan dalam kitab-kitab Upanisad.
  • Ada beberapa konsepsi penting yang ditemukan para Rsi yang membaca kitab-kitab suci di hutan:
    –Alam semesta diciptakan dari yajna dan dipelihara dengan yajna
    –Konsep Brahman – Atman, Samsara (punarbhawa)
    –Karma, samsara (punarbhawa), dan moksa.
ZAMAN KEMUNDURAN HINDU(600 – 300 SM)
  • Muncul protes dan perlawanan yang menentang ajaran Brahmana, yang mengajarkan upacara yajna, berbagai ritual serta pembunuhan bermacam-macam binatang dalam jumlah yang tidak sedikit, dengan biaya mahal..
  • Gerakan perlawanan ini dipimpin oleh para penganut Buddha, Jaina, Carwaka, dll, yang menolak wewenang dan otoritas kaum Brahmana.
  • Mereka menentang ritual-ritual yang bersumber pada Weda. Sebaliknya mengajarkan, mengagungkan etika tapa-brata, dan penebusan dosa dg disiplin ketat untuk mencapai moksa (bebas dari kelahiran dan kematian).
  • Agama Buddha begitu cepat meluas, ke seluruh masyarakat yang beragama Brahmana. Yang masih taat agama Hindu kebanyakan kaum Brahmana.
  • Pada zaman ini Hindu pecah menjadi 2 (dua) yaitu:
    1. Golongan Heterodoks/rasionalis: penganut Buddha, Jaina, Carwaka dsb
    2. Golongan Orthodoks: penganut Brahmana
ZAMAN KEBANGKITAN HINDU(300 – 200 SM)
  • Pushyamitra seorang Brahmana yang memimpin perlawanan penganut agama Brahmana menyerang penganut Buddha dan golongan rasionalis. Ia menghidupkan kembali upacara Aswamedhayajna.
  • Dalam perlawanan menentang agama Buddha, agama Brahmana (Hindu) pecah menjadi 2 (dua) mazab besar, yaitu Saiwa dan Waisnawa.
  • Mazab Saiwa: Karma Kanda, ritual, kitab Brahmana, memuja Tri Murti.
  • Mazab Waisnawa (Wedantis): Jnana Kanda, menolak ritual, warna, dan kekuasaan Brahmana.
  • Kaum Brahmana melarang pembacaan kitab suci Weda untuk umum, karena takut salah tafsir terhadap kitab suci Weda. Larangan ini membuat para Wedantis membuat kitab suci baru yang disebut: Pancama Weda, seperti: Ramayana, Mahabharata, Bhagawad Gita.
  • Demikian juga kitab-kitab Upanisad disempurnakan; misalnya: Sad Darsana: Samkhya, Yoga, Nyaya, MImamsa, dan Wedanta.
  • Kitab Brahmana: Kalpa Sutra, Grihya Sutra, Dharma Sutra dsb
Daftar Pustaka :
  • Cudamani. 1993. Pengantar Agama Hindu. Jakarta: Hanuman Sakti.
  • Maswinara, I Wayan. 1999. Sistem Filsafat Hindu. Surabaya: Paramita.
  • Phalgunadi, I Gst Putu. 2006. Sekilas Sejarah Evolusi Agama Hindu. Editor: I B Putu Suamba. Denpasar: Widya Dharma.
  • Pudja, G. 1985. Satu Pengantar Dalam Ilmu Weda. Jakarta: Mayasari.
  • Sura, I Gede. 1993. Pengendalian Diri dan Etika Dalam Ajaran Agama Hindu. Jakarta: Hanuman Sakti.
  • Tim Penyusun. 1987. Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Bali. Denpasar: Pemerintah Daerah Tingkat I Bali.
  • Tim Penyusun. 2005. Pedoman Sembahyang. Denpasar: Pemerintah Provinsi Bali.
Read More

Sejarah Agama Hindu



a.      Lahirnya agama Hindu
Agama Hindu sebagaimana disampaikan dalam kuliah tamu sejarah agama Hindu merupakan agama yang paling tua di dunia yang telah lahir jauh sebelum Moses, Buddha, dan Kristus. Hanya saja perlu dicatat bahwa sampai saat ini tahun lahirnya agama Hindu tersebut masih controversial dan belum diketahui secara pasti kapan kapan agama tersebut pertama kali Lahir, yang jelas sesuatu yang dianggap sebagai tradisi-tradisi Hindu telah lahir berberapa beratus sebelum masehi.
Agama Hindu merupakan agama yang tidak berasal dari seorang pendiri, sebuah kitab, atau satu titik waktu sebagaimana agama lain, tetapi agama Hindu merupakan agama Tuhan yang disampaikan kepada Maha Rsi (para penerima Wahyu), yang pada jaman dahulu para Maha Rsi tersebut menyanyikan wahyu tuhan di hutan, gunung, dan juga ditepian sugai-sungai di India, dan tradisi-tradisinya dihubungkan dengan Bangsa Arya
Meski demikian dalam penulisan sejarah Agama Hindu Dipriodisasikan kedalam beberapa priode, yaitu : Pertama, Perkembangan agama Hindu di India pada Zaman Veda (6500-2000 SM). Kedua Perkembangan Agama Hindu di India Zaman Brahmana (2000-1500 SM). Ketiga, Perekembangan agama Hindu di India pada zaman Upanisad (1500-500 SM). Kemudian periode selanjutnya perkembangan agama Hindu ke berbagai wilayah di luar India.
b.      Kronologi Turunya Wahyu Tuhan dan pembentukan Kitab Suci Agama Hindu
Turunya wahyu yang kemudian menjadi pegangan dan ajaran bagi orang-orang Hindu terjadi melalui beberapa tahap, yaitu : pertama-tama, Brahman (Tuhan, sang Hyang Widhi Wasa) menyampaikan kepada Dewa Brahma, kemudian dari Dewa Brahma Wahyu tersebut disampaikan kepada 7 Maha Rsi yang dikenal dengan sebutan Sapta Maha Rsi yaitu, Maha Rsi Grtsamada, Maha Rsi Wiswamitra, Maha Rsi Atri, Maha Rsi Baravia, Maha Rsi Vasistha, Maha Rsi Kanwa, dan yang terakhir Maha Rsi Vamadewa. Kemudia wahyu yang diterima oleh para Maha Rsi Tersebut dibukukan oleh Maha Rsi Vyasa dan Muridnya dan menjadi kitab suci agama Hindu yang dikenal dengan kitab Weda, yang terbagi kedalam empat bagian yang dikenal dengan sebutan Catur Weda yaitu : Pertama, Kitab Reg Weda yang dibukukan oleh Maha Rsi Puluha, Kedua, Kitab Yajur Weda oleh Maha Rsi Vaisampayana, ketiga, Kitab Sama Weda oleh Maha Rsi Jaimini, dan yang terakhir adalah Kitab Atharva Weda oleh Maha Rsi Sumantu. Kemudian untuk menjaga keaslian ajaran Weda yang tersimpan dalam beberapa kita tersebut dibuatlah pedoman pasti yang dituangkan dalam kitab Manawana Dharmasastra. Dalam pedoman tersebut ajaran agama Hindu dijabarkan dibagi kedalam 5 struktur yaitu, Sruti, Smrti, Sila, Acara dan Atmanastuti.
c.       Ajaran dan Tujuan Agama Hindu
Ajaran pokok keimanan Agama Hindu dibagi kedalam 5 bagian yang disebut dengan Panca Sradha, Yaitu : 1. Percaya adanya Tuhan, 2. Percaya adanya Atamn, 3. Percaya adanya Hukum Karma Phala, 4. Percaya adanya Punarbhawa (Reingkarnasi), dan 5. Percaya adanya Moksa.
Adapun tujuan agama Hindu ialah “Moksartham jagahita ya ca iti dharma” yang artinya “ Agama (Dharma) bertujuan untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kesejahteraan hidup jasmani”, dari rumusan itu, tujuan agama Hindu kemudian secara lebih rinci disebutkan dalam 4 tujuan hidup manusia Hindu yang disebu Catur Purusa Artha, yaitu : Dharma (kebenaran yang menuntut umat manusia mencapai kebagiaan dan keselamatan), Artha (Benda materi yang dapat memuaskan kebutuhan hidup manusia), Kama (hawa nafsu, keinginan, dan kesenangan), dan yang terakhir yaitu Moksa (Kebahagiaan yang tertinggi dan abadi).
Selain itu, dalam agama Hindu terdapat sebuah rumusan yang disebut dengan Yadnya, yaitu persembahan suci atau korban suci yang ditujukan kepada tuhan dan para dewa yang didasarkan atas pengabdian dan cinta kasih. Yadnya juga bisa disebut sebagai kebaktian, penghormatan dan pengabdian atas dasar kesadaram dan cinta kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME), yang terbagi kedalam 5 kategori yaitu : Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, dan Butha Yadnya.
 
Read More

Rabu, 07 November 2012

Sekte-sekte dalam Agama Hindu


a.       Sekte Bhakti
Sekitar tahun 500 SM, muncul beberapa kecenderungan “pemujaan”, pelayanan atau kebaktian yang mencakup pengertian percaya, taat dan berserah diri kepada dewa. Pemujaan dan kebaktian kepada dewa itu dinyatakan dalam puja yang perwujudannya kadang-kadang dinyatakan dengan mempersembahkan berbagai macam buah-buahan dan bunga-bungaan kepada para dewa disertai dengan penyelenggaraan upacara mengitari kuil-kuil tertentu. Puja dan bhakti tersebut dilakukan dengan hidmat dan sikap badan tertentu, seperti sikap merebahkan dan meniarapkan diri di dekat patung yang terdapat dalam kuil atau tempat-tempat yang dianggap suci lainnya sambil mengucapkan beberapa doa.[1]
Urain tentang bhakti terdapat dalam kitab Narada Bhakti Sutra dan Shadilya Sutra. Kitab ini banyak membicarakan wawasan keagamaan pada sekte bhakti yang terdapat di India. Menurut sutra-sutra tadi, bhakti bukannya merupakan suatu “pengetahuan” dan juga bukan merupakan “perbuatan ritus”, juga bukan merupakan “sistem keagamaan”, tetapi merupakan kasih sayang, ketaatan, kepatuhan dan penyerahan diri kepada sesuatu. Bhakti adalah “pasrah” setulus-tulusnya (prapatti) bukan kepada suatu objek yang bersifat duniawi tetapi hanya kepada “dewa” semata dengan segenap avatara atau ingkarnasinya. Karena itu barang kali ada benarnya kalau dari pengertian di atas dikatakan bahwa bhakti lebih tinggi daripada meditasi falsafi.[2]
Wujud bhakti memiliki jenjang istilah maupun sikap sebagai tatakrama mewujudkan rasa bhakti yang beretika. Istilah bhakti itu diantaranya:[3]
Menghormati adalah pencetus bhakti terhadap semua makhluk, terhadap semua ciptaan Tuhan baik yang nyata maupun tidak nyata. Kita patut saling hornat menghormati sesama makhluk hidup, sesama ciptaan Tuhan yang mana masing-masing ciptaan-Nya itu telah memiliki hukumnya masing-masingyang seharusnya berjalan selaras dengan perputaran roda hukumnya masing-masing.
Memuja adalah wujud bhakti dalam bentuk lamtunan puji-pujian yang ditujukan kepada kebesaran Tuhan baik dalam bentuk manifestasi-Nya atau sifat-sifat ketuhananyang memberi berkah-Nya pada kebutuhan hidup ini. Puji-pujian yang dikidungkan dalam pemujaan adalah untuk ymenyenangkan yang dipuja, mewujudkan rasa senang dan rasa tenang dalam kebahagiaan.
Berdoa adalah wujud bhakti yang dilakukan dalam menyampaikan permohonan kehadapan-Nya. Atas ketidak mampuan dan keterbatasan kita wajib berdoa agar diberkati dan diampunu segala dosa serta kekurangan- kekurangan kita.berdoa adalah sebagai wujud rendah hati, sebagai wujud  kesadaran akan keterbatasan kita sebagai manusia.
Menyembah adalah bentuk bhakti sebagai penyerahan diri yang dilakukan dengan tulus dan penuh kepasrahan terhadap kemaha agungan Tuhan.

b.      Sekte Wisnu
Sekte ini lebih mmengutamakan pemujaan kepada dewa Wisnu karena dewa ini sangat sympatik bagi mereka dengan sifat-sifatnya yang berdasar pada perasaan  bhakti (cinta).
Pandangan pengikutnya antara lain menyatakan bahwa kebaikan Wisnu dengan Bhaktinya ialah yang dapat memberikan jaminan kedamaian hidup bagi uumat pemujanya, karena itu cukuplah bagi pengikut-pengikutnya untuk menyerahkan diri saja kepada-Nya.
Sikap penyerahan diri kepada-Nya akan membawa mereka kepada Nirwana. Segala kebaikan bhakti Wisnu itu dilukiskan dengan panjang lebar dalam sucinya yaitu kitab Purana
Didalam kitab tersebut diceritakan bagaimana manifestasi can kebaikan bhakti Wisnu dalam usahanya menolong ummat manusia dari segala bentuk kehancuran dan kejahatan. Dengan jelma (melakukan avatara) menjadi berbagai makhluk ajaib dalam 10 rupa, maka kehancuran dan kejahatan dapat dihindari.
Kesepuluh avatara tersebut adalah:[4]
(1)   Matsyavatara, berupa ikan besar untuk menolong manusia pada saat banjir besar melanda dunia yang akan menenggelamkannya.
(2)   Kurnavatara, sebagai kura-kura untuk menolong dewa-dewa pada waktu mengaduk samudera guna mendapatkan air amerta (air hidup) yakni air yang bilamana diminum orang akan mengalami hidup kekal abadi.
(3)   Narashimha, sebagai singa yang berbadan manusia yang membunuh raksasa yang tidak bisa dibunuh olehsiapapun.
(4)   Varahavatara, sebagai babi rusa yang menolong manusia dengan menggigit bumi yang pada saat itu akan dibawa karpatala (neraka dibawah bumi) oleh musuh-musuh manusia.
(5)   Vamanavatara, sebagai oarang cebol yang dapat mengalahkan cucu raksasa yang bernama Narashinka. Cucu raksasa tersebut bernama Bali (Daitya Bali)
(6)   Budhavatara, sebagai budha yang bertugas melemahkan musuh-musuh dewa yang menyebarkan ilmu palsu.
(7)   Parasuramvatara, sebagai kesatrya yang bersenjatakan parasu ( kampak) membunuh beberapa kesatrya yang menghina ayahnya, sebagai pembalasan atas penghinaan tersebut.
(8)   Ramavatara, rama sebagai kesatrya, anak Dasarata yang dibuang kehutan belantara, dimana ia kehilangan isterinya Shinta, karena perbuatan Dasamuka (Rahmana) yang berwatak rakus dan yang menganiaya ummat manusia. Akhirnya Rama dapat membunuh Rahwana serta dapat merebut kembali isterinya, (cerita tentang Rama tersebut diuraikan dalam kitab Ramayana).
(9)   Kalkiavara, sebagai Kalki ( Ratu Adil) yang dapat mmententramkan dunia yang mengalami kekacauan akibat perbuatan makhluk-makhluk jahat di dunia.
(10)  Kresnavatara, sebagai Kresna yang kemudian membunuh Raja Kamsa (seorang raja Mathura kemenakan Kresna).
Semua avatara Wisnu tersebut merupakan salah satu gambaran simbolis yang mencerminkantentang kebenaran kepercayaan Wisnuisme kepada adanya “juru selamat” di dunia dan manusia dari kehancuran hidupnya.
Wisnu biasanya dibedakan menjadi 4 sampradaya pokok atau sekte, diantaranya yang sangat kuno adalah Sri Sampradaya yang diperkenalkan oleh Ramanuja Acarya, kira-kira pertengahan abad ke-12. Para Pengikut Ramanuja memuliakan Wisnu dan Laksmi beserta inkarnasinya, mereka disebut pengikut Ramanuja atau Sri Sanpradayin atau Sri Waisnawa.[5]

c.       Sekte Siwa
Penganut Hindu dari sekte Siwa meyakini Tuhan adalah Siwa. Salah satu bentuk pemujaan Siwa yang dilakukan oleh pada Pendeta Siwa adalah dengan mengucapkan mantra yang disebut sebagai Mantra Catur Dasa Siwa, yakni empat belas wujud Siwa.[6]
Mantra ini digunakan untuk mendapat pengaruh ke-Tuhan-an yang kuat dan suci serta untuk mendapat kebahagian sekala-niskala.
Mantra itu sebagai berikut:
  1. Om Ang Prasada Kala Siwaya namah
  2. Om Ang Stiti Kala Siwaya namah
  3. Om Ang Kala-kutha Siwaya namah
  4. Om Ang Maha-suksma Siwaya namah
  5. Om Ang Suksma Siwaya namah
  6. Om Ang Anta-kala Siwaya namah
  7. Om Ang Adhi-kala Siwaya namah
  8. Om Ang Parama Siwaya namah
  9. Om Ang Ati–suksma Siwaya namah
  10. Om Ang Suksma-tara Siwaya namah
  11. Om Ang Suksma-tama Siwaya namah
  12. Om Ang Sada Siwaya namah
  13. Om Ang Parama Siwaya namah
  14. Om Ang Sunia Siwaya namah
Pendeta Siwa yang mengucapkan dan meresapkan Mantra Catur Dasa Siwa ingin mendudukkan Siwa dalam tubuh/ dirinya mulai dari bagian bawah tubuh sampai ke bagian atas tubuh, yakni:
  1. Mantra nomor 1 untuk kaki kanan
  2. Mantra nomor 2 untuk kaki kiri
  3. Mantra nomor 3 untuk perut
  4. Mantra nomor 4 untuk pusar
  5. Mantra nomor 5 untuk hati
  6. Mantra nomor 6 untuk tangan kanan
  7. Mantra nomor 7 untuk tangan kiri
  8. Mantra nomor 8 untuk mata kanan
  9. Mantra nomor 9 untuk mata kiri
  10. Mantra nomor 10 untuk telinga kanan
  11. Mantra nomor 11 untuk telinga kiri
  12. Mantra nomor 12 untuk sela-sela alis
  13. Mantra nomor 13 untuk ujung hidung
  14. Mantra nomor 14 untuk ubun-ubun
Pemeluk-pemeluk aliran ini sangat optimis terhadap kebulatan kekuasaan dewa Siwa ini, karena ia dipercayai dapat menjelma menjadi berbagai bentuk kedewataan yang menggambarkan akan kekuasaannya yang besar. Kekuasaannya meliputi: penentuan hidup dan matinya manusia dan kekuasaannya adalah yang tertinggi diantara dewa-dewa.
Pada masa permulaan Agama Hindu, Siwa tidak pernah dipuji orang sebagaimana halnya Wisnu. Sebagai tanda kekuasaannya dewa ini digambarkan secara fantastis dengan tangan empat. Bilamana ia sedang menjadi Siwa Maha Dewa (Maheswara) maka tak ada dewa atupun yang dapat mengalahkan kekuasaannya. Bilamana ia sedang menjelma menjadi dewa Maha Guru maka Siwa adalah sebagai oarang tua berjanggut yang saleh dan suka membimbing manusia ke arah hidup bahagia. Sebagai ciri watak-wataknya sebagai guru, dia disimbulkan dalam bentuk orang yang membawa kendi, sapu lalat (cemara) dan tasbih ( akshamala). Tetapi bilamana ia sedang menjelma menjadi Mahakala, maka watak serta sikapnya dilukiskan sebagai raksasa yang buas merusak apa yang dikehendaki dan kejam. Oleh karena itu sebagai tanda pada Kroda (amarahnya) diberi simbol Parasu (Kanpak), Trisula (lembing dengan tiga mata). Dan Fesu (jaring).[7]
Jadi keistimewaan Dewa Siwa ini adalah dapat mempunyai watak/sifat-sifat pribadi yang satu sama lain kadang-kadang berlawanan. Dalam pemujaan-pemujaan demikian mereka memberikan korban-korban dan saji-sajian setiap waktu tertentu dibawah pimpinan pendeta-pendetanya.

d.      Sekte Sakti
Sebenarnya aliran ini masih dapat dimasukkan sebagai bagian dari aliran Siwa, tetapi karena yang disembah dan dipuji bukan lagi Siwa melainkan saktinya dalam bentuk Darga, dan karena lebih luasdan lebih mendalam, maka lebih tepat kalau dianggap sebagai salah satu aliran keagamaan tersendiri dalam agama Hindu. Sakti adalah kekuatan, prinsip aktif yang menyebabkan Siwa mampu menciptakan. Tanpa Sakti tersebut Siwa tidak akan dapat berbuat apa-apa karena Siwa adalah prinsip pasif. Karena itu Sakti menjadi lebih penting daripada Siwa sendiri. Segala sesuatu terjadi karena bersatunya prinsip pasif dengan prinsip aktif. Yaitu persatuan Siwa dengan Saktinya, Durga.[8]
Persatuan antara Siwa dan Saktinyaadalah persatuan antara laki-laki dan perempuan, yang dilambangkan sebagai Linga dan Yoni. Karena itu hubungan seks mempunyai arti yang ssangat penting dalam sekte Sakti ini. Karena segala sesuatu tercipta melalui persatuan tersebut, maka egala sesuatau mengandung kekuatan dan Sakti Siwa. Bentuk-bentuk tertentu dari Sakti dan segala sesuatu adalah baik; tidak ada yang tidak baik. Hanya orang yang tidak mengerti saja yang beranggapan bahwa ada yang baik dan ada yang tidak baik. Ini keliru, karena anggapan itu hanya didasarkan pada kesadaran manusia sendiri. Untuk mencapai kebenaran dan kelepasan (moksa) manusia harus melepaskan diri dari belenggu kekeliruan ini. Ia harus melepaskan kesadarannya sendiri sehingga dapat menyadari kebenaran bahwa segala sesuatuadalah perwujudan dari Sakti dan Siwa, dan bahwa semua adalah baik.[9]
e.       Sekte Tantra
Aliran ini dalan usaha mencapai Nirwana lebih mementingkan cara penbacaan manter-mantera rahasia dan membebaskan ruang gerak hawa nafsu. Dalam kitab Tantrisme yang disebut kitab “AGAMA” dan “TANTRA” dinyatakan bahwa “Hendaknya manusia jangan mengekang hawa nafsunya tetapi sebaliknya hawa nafsu harus dibebaskan dan diberi kepuasan. Dengan demikian, maka jiwa manusia menjadi merdeka dari segala tekanan-tekanan psikisnya”.
Cara-cara yang ditempuh ialah menjalankan 5 (lima) “ma” yang terdiri dari Matsya: makan ikan sebanyak-banyaknya. Mada: meminum tuak sebanyak mungkin. Mansa: makan daging sebanyak-banyaknya. Mudra: makan sejenis nasi (padi-padian) sebanyak-banyaknya. Akhirnya Mauethua: melepaskan nafsu birahi sebanyak-banyaknya dengan wanita.[10]
Dengan kepuasan nafsu tersebut, manusia dapat melepaskan diri dari samsara. Adapun sistem ajaran Tantrayana tersebut diberikan dalam bentuk percakapan antara Siwa dengan Durga (isteri Siwa).

Daftar Pustaka
Ali, Mukti. Agama-Agama di Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press. Cet ke- I 1988.
Arifin. Menguak Misteri Alaran Agama-agama Besar.
Madra, I Ketut. Tuhan Siva dan Pemujaannya. Surabaya: Paramita, 2007
Parbasana, I Noman. Panca Sradha: Sebagai Dasar Kepercayaan yang Universal. Denpasar: Widya Dharma, 2009
Sivananda, Sri Swami. Intisari Ajaran Hindu. Surabaya: Paramita, 2003


[1] H.A. Mukti Ali.  Agama-agama dunia (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988) h. 76
[2] Ibid., hal., 76
[3] I Nyoman Parbasan. Panca sradha: Sebagai Dasar Kepercayaan (Denpasar: Widya Dharma, 2009) h. 65
[4] Arifin. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar (Jakarta: PT. Golden Trayon Press, 1986) h. 84
[5] Sri Swami Siwanada. Intisari ajaran hindu (Surabaya: PARAMITA, 2003) h. 144
[7] Arifin. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar (Jakarta: PT. Golden Trayon Press, 1086) h. 86
[8] H.A. Mukti Ali.  Agama-agama dunia (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988) h. 85
[9] H.A. Mukti Ali.  Agama-agama dunia (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988) h. 85
[10] Arifin. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar (Jakarta: PT. Golden Trayon Press) h. 88
Read More